11 March 2015 Published in Ragam Kegiatan Written by 

Mentoring Gabungan STT NF Menjernihkan Akal dan Jiwa

Rate this item
(0 votes)

Hampir lupa untuk menulis sebuah ungkapan rasa keterharuan. Menyimak tausiyah langsung dari Ustadz Musholi, begitu kami memanggilnya, selaku Ketua Yayasan Profesi Terpadu Nurul Fikri. Ceramah yang diselenggarakan tepat saat mahasiswa menyambut awal semester genap tahun 2015, babak baru menuntut ilmu di STT Terpadu Nurul Fikri, tempat penulis menimba ilmu.

Pada Rabu (25/2) Drs. Musholi menyampaikan mentoring gabungan di Aula Kampus B STT NF. Mendengarkan ceramahnya, kita seperti dibawa kembali ke masa-masa dakwah tahun 1970-an. Pesannya mendalam dan mengena. Ketika dakwah menyebar ke seantero dunia termasuk Indonesia. Masa dimana dakwah kampus mengalami perkembangan signifikan.

Pembahasan mengenai kejernihan pikiran dan jiwa dikemas dengan runtut dan sistematis oleh Drs. Musholi, alumni FMIP Universitas Indonesia yang juga aktivis Masjid Arief Rahman Hakim angkatan 1978. Saat itu, Prof. HM Rasjidi selaku Imam Masjid ARH UI, sekaligus guru spiritual bagi para aktivis masjid kampus. Prof. Rasjidi adalah Menteri Agama RI pertama, ulama yang dikenal vokal mengkritik pemikiran liberalis di Indonesia. Dengan begitu, maka Drs. Musholi adalah murid langsung dari Prof. Rasjidi. Tidak heran bila caranya menyampaikan materi masih layaknya seorang aktivis dakwah yang matang dan kaya pengalaman.

Konsep jiwa adalah kandungan yang dalam tentang kejernihan alam pikiran manusia. Ia akan didapat dengan perjuangan panjang. Pematangan pikiran dan perenungan. Dari sana, seseorang bisa mendapatkan kejernihan pikiran, akal sehat. Akal adalah anugerah yang besar dari Allah SWT. Sepatutnyalah kita menjaganya dan merawatnya. Dengan akal itu manusia kemudian berani mengambil amanah untuk menjadi Khalifah di muka bumi.

Mengemban amanah untuk menerima wahyu berupa Al-Qur'an yang suci, tidak ada satu golongan makhluk pun di muka bumi ini yang mampu menerimanya, kecuali manusia. Maka, penting bagi kita untuk selalu berakal dengan sehat dan memiliki akal yang kuat. Drs. Musholi menyampaikan bahwa jika seseorang mempunyai akal, lalu ia gunakan untuk berpikiran yang negative, maka yang ada adalah keresahan. Kegundahan, galau dan kesumpekan akan selalu menggelayutinya. Orang lain akan menjauh darinya karena tak nyaman. Terutama jika orang itu orang yang sombong, orang yang egois dan selalu menganggap dirinya 'paling benar' dan yang lain adalah salah.

Mengedepankan dirinya tanpa mendengar pendapat orang lain, itulah orang yang sombong. Kemudian beliau menasehati agar kita selalu menanamkan rasa tawadhu. Rendah hati adalah sifat yang amat terpuji, orang yang rendah hati akan selalu diterima di manapun. Ia disenangi karena bisa menghargai pendapat orang lain. Di sinilah letak pentingnya sikap obyektif dalam memandang orang lain. Kita tidak bisa menilai orang lain sesuka hati kita. Penilaian itu harus obyektif, agar adil dan tidak timpang yang mengakibatkan sifat egosentris kita menonjol. Dua hal yang menyebabkan kerusakan jiwa dan kesesatan akal, yaitu menuruti hawa nafsu dan mengikuti setan.

Kebahagiaan di dunia akan diraih dengan kejernihan jiwa dan ketaqwaan. Ada empat hal yang perlu ditanamkan dalam diri kita, jika ingin meraih kejernihan jiwa, menurut Drs. Musholi, yaitu:

  1. Rendah Hati,
  2. Obyektif,
  3. Open Mind,
  4. Moderat.

Yang bisa disingkat menjadi istilah "ROOM". Room berarti "ruangan" mempunyai arti filosofis, bahwa ruang akan mampu menerima siapa saja. Di sanalah batas-batas keegoisan dihilangkan, ia bisa menampung banyak orang. Jika kita bisa menerapkan empat hal tersebut, maka orang-orang di sekeliling kita akan senang kepada kita. Korelasinya adalah kita menjadi banyak teman, hubungan yang baik dengan semua orang berarti 60-70% kesuksesan telah kita raih.

Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa untuk meraih kesuksesan dalam urusan dunia dan akhirat adalah dengan memelihara kesehatan akal. Kita akan focus, apabila pikiran kita bersih. Pun keberhasilan dalam hal akademik hanya bisa diraih dengan cara fokus. Dalam dunia psikologi, antara akal, hati nurani dan jiwa itu tidak dibedakan. Padahal, dalam Islam telah jelas mendeskripsikan perbedaan ketiganya. Pengaruh berbeda dari ketiganya bisa kita dapatkan, jika kita menilik konsep jiwa dan hati nurani menurut Islam. Jika kita ragu, maka tanyalah hati nurani, begitu Islam mengajarkan.

Membahas tentang konsep jiwa, penulis teringat teori Prof. Syed Naquib A-Attas. Konsep jiwa dalam Islam menurut al-Attas, adalah realitas tunggal dengan empat keadaan yang berbeda, yaitu nafs, 'aql, qalb dan ruh. Masing-masing terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat kognitif, empiris, intuitif dan spiritual [1]. Berbeda sekali dengan konsep jiwa menurut ilmu psikologi yang notabene diusung oleh ilmuan Barat. Dalam tradisi keilmuan Barat, persolaan jiwa oleh sebagian ilmuan tidak menjadi perhatian utama, karena kebenarannya masih dianggap spekulatif dan cenderung subyektif.

Ilmu psikologi modern yang menjadi referensi dalam kajian kejiwaan saat ini, secara umum belum mampu mengurai secara jelas hakikat dari diri manusia. Kajiannya hanya mampu mengurai prinsip-prinsip umum dan gejala dari jiwa manusia yang teraktualisasikan melalui jasad. Umumnya, masih berupa kesimpulan-kesimpulan yang bersifat hipotesis dari pengalaman seorang ilmuan atau peneliti. [2]

Penulis hanyalah mahasiswa biasa, manusia biasa yang tak bisa lepas dari dosa. Kita akan merasai diri kita bersalah, jika ada orang yang mau memberi nasihat. Kedirian kita sulit untuk mengakui kesalahan, manakala tiada seorangpun yang sudi mengingatkan. Untuk itu, penulis memohon untuk mau mengingatkan jika ada kesalahan.

Dengarlah nasihat dari Imam al-Ghazali yang ditulis dengan kata-kata indah ini: "Ketahuilah, bahwa memutuskan hubungan dengan Allah Yang Maha Benar (al-Haqq) dengan hanya bergaul dengan manusia serta diri sendiri, sibuk dengan perbuatan sendiri, berpaling dari aqidah yang benar dengan berbagai ragam kehinaan yang memang merupakan kecenderungan manusia; cinta kedudukan, harta dan dunia; membanggakan reputasi dan popularitas, menutup hati dengan syahwat, tidak membersihkannya bahkan bermain-main dengannya, mempertontonkan kecantikan, membiasakan diri dengan sifat-sifat tercela seperti dendam, iri, dengki. Cinta dunia adalah racun yang mematikan. Hawa nafsu menyebabkan orang sombong dan terlena dengan kehidupan dunia. Kedua hal itulah yang merusak agama. Sebagian Imam berkata, 'Aku tidak akan mengerjakan sesuatu perbuatan yang banyak diperhatikan orang, agar aku tidak terjerumus'." [3]

Seringnya manusia bertindak karena manusia lain. Di sanalah kedirian kita dipertaruhkan eksistensinya. Kita bertindak sesuatu karena siapa? Kejernihan jiwa akan membuat kita tidak bisa terpengaruh oleh orang lain. Bertindak atas kehendak diri adalah pengejawantahan dari kejernihan jiwa karena kedirian kita atas Allah 'Azza wa Jalla. Kita bertindak karena perintah Allah SWT, penulis menulis karena ingin menulis dan mengharap pahala dari-Nya.

Semoga di kesempatan lain Drs. Musholi lebih sering lagi memberi pencerahan kepada kami, anak didikmu. Agar kami selalu mendapat nasehat yang indah seperti kemarin. Akhirnya nanti entah kapan, kita jua akan kembali kepada-Nya, ingat-ingatlah puisi yang indah dari Ibnu Sina. Tentang jiwa kita, jiwa yang selalu rindu akan kembali kepada keharibaan-Nya.

"Nafs (jiwa) dalam jasad itu bagaikan burung yang terkurung dalam sangkar, merindukan kebebasannya di alam lepas, menyatu kembali dengan alam ruhani, yaitu alam asalnya. Setiap kali ia mengingat alam asalnya, ia pun menangis karena rindu ingin kembali." (Ibn Sina)
[1] Dinar Dewi Kania, Epistemologi Syed Muhammad Naquib Al Attas
(http://www.menaraputih.org/2013/09/27/epistemologi-syed-muhammad-naquib-al-attas/)
[2] Syah Reza, Konsep Jiwa Menurut Islam
(http://inpasonline.com/new/konsep-jiwa-menurut-islam/)
[3] Al-Ghazali, Jalan Menuju Tuhan, (Jakarta, Azan, 2001) hal. ix-xi

Read 337497 times